mBandung, Mercedes Dan Nasionalis Kiri

January 15, 2009 at 1:04 am | Posted in mBandung Mercedes Dan Nasionalis Kiri | Leave a comment
Tags: ,

mBandung, Mercedes Dan Nasionalis Kiri

PULANG dari Bandung untuk tugas rutin, yaitu untuk “jual kecap” alias “jual
abab” saya disambut dengan hangat oleh seluruh staf lengkap kitchen cabinet
saya. Saat-saat seperti itu selalu mengharukan hati saya. Mereka adalah
orang-orang gajian saya yang selalu saya gaji dengan murah sekali. Begitu murah
sehingga seharusnya mereka mudah dulu-dulu meledakkan satu revolusi di rumah
saya. Satu revolusi yang digerakkan oleh kelas buruh yang mampu memaksa kami
kaum elite birokrasi yang disebut priyayi untuk menyetujui tuntutan upah minimun
mereka. Toh revolusi itu tidak pernah pecah. Padahal mereka anggota satu bahkan
dua gerakan buruh. Yaitu, P(ersatuan) D(jongos) D(jongos) yang konon sudah
didirikan sejak sebelum gunung Merapi meletus. (Tentu tidak pernah jelas letusan
Merapi yang kapan). Dua gerakan buruh itu sesungguhnya juga sudah beberapa kali
mengadakan rapat untuk menuntut kenaikan gaji mereka. Maksudnya kenaikan yang
benar-benar terasa memuaskan. Dan bukan kenaikan yang cuma berapa rupiah dalam
setiap empat bulan Suro itu. Yang mereka tuntut adalah baju baru sekeluarga
empat sampai lima kali setahun, ganti sepatu baru dua, tiga kali setahun dan
gelang, kalung dan giwang emas yang gandul-gandul di tubuh para madam itu. Toh,
revolusi tidak pernah sempat pecah. Apalagi revolusi! Untuk berpawai dan
membacakan resolusi pun tidak pernah sampai terjadi.

Yang saya dengar kemudian dari Mr. Rigen ada seorang oknum yang dibawa salah
seorang anggota gerakan itu yang meyakinkan mereka semua untuk tidak usah saja
melancarkan demonstrasi kenaikan upah. Apalagi revolusi. Jangan, kata oknum itu.
Ini bukan zamannya tuntut-tuntutan. Semua bisa dirembuk baik-baik cara
kepribadian dan budaya kita. Apalagi kata revolusi dan demonstrasi itu
sesungguhnya ciptaan kaum kiri. Salah-salah organisasi ini bisa dituduh
organisasi kominis. Apalagi pasti ada saja sanak yang terlibat dalam gestok eh,
gestapu to? Hayo, yang jujur saja. Ada to? Naa, begitu kata oknum itu
selanjutnya. Daripada dituduh PKI, tidak bersih lingkungan luwih becik ora usah
apa-apa. Ini zaman susah cari kerja, cari makan. mBok yang nrimo, enggih
sedulur-dulur. Majikan-majikan sampeyan semua itu bukan sembarang majikan.
Mereka bukan kapitalis tetapi Korpri. Kor-pri! Pasti mereka sudah penuh
perikemanusiaan semua. Lha wong mereka ditatar terus itu! Sudahlah serahkan
semua kepada majikan kalian. Serahkan pada roso kemanungsan mereka . . . .

“Lha, saya ya manggut-manggut setuju to, Pak. Wong yang dibilang itu betul
semua, kok.”
“Betul apa, Gen?”
“Lho ha enggih. Panjenengan itu apa pernah to sio-sio menyia-nyiakan saya?”
“Ya embuh!”
“Nggak pernah. Kenaikan gaji senajan sitik-sitik setiap inplasi ya Bapak
berikan. Baju ya lorodan-lorodan terus mengalir. Senajan kaos yang diberikan itu
bolong-bolong di sana-sini.”
“Hus! Nyentil kamu, ya? Ngritik kamu, ya?”
“mBoten. Cuma matur seadanya, kok Pak. Tapi, betul kok, Pak. Saya sekeluarga itu
merasa cukup kok di sini.”
“Lha, rak begitu, Mister!”
“Tapi, kiri itu artinya apa to, Pak?” “Kiri? Kiri . . . .”

Dan saya saking inginnya direktur kitchen cabinet saya memahami makna “kiri”
saya jelaskan dengan panjang lebar. Saya mulai dari revolusi Perancis pada waktu
kaum Jacobin menduduki kursi-kursi di deretan sebelah kiri. Sampai kemudian jadi
kaprah diartikan yang politiknya membela rakyat kecil itu kiri.

“Lha, kalau begitu Pak Ageng itu kiri begitu! Wong Pak Ageng suka mbela wong
cilik seperti saya itu!”
“Hus! Aja banter-banter, jangan keras-keras. Zaman sekarang dicap kiri itu bisa
sangsoro lho, Gen.”
“Sangsoro bagaimana? Wong dicap membela wong cilik kok panjenengan takut to,
Pak!”
“Ya tidak takut begitu, Gen. Ning ya cuma takut.”

Mr. Rigen nggleges mungkin sekarang tahu nyali bosnya cuma sebesar tengu.
Tetapi, saya kemudian ingat bekas bos saya di Deppen dulu yang sekarang kembali
jadi wiraswasta dan bos surat kabar. Beliau yang sekarang punya hotel indah bin
mewah, naik mercedes, dengan tegas, tanpa ragu-ragu, tanpa wigah-wigih menamakan
dirinya sebagai nasionalis kiri! Lho opo ora hebat? Beliau bilang mercedes itu
cuma alat transportasi yang sangat penting untuk melancarkan tugas-tugas.
Tentulah yang beliau maksud untuk melancarkan tugas-tugas mengurusi dan membela
wong cilik! Wah, saya jadi bangga kembali ingat bekas bos saya itu. Tetapi,
waktu saya ingat jip rongsokan di garasi yang bos saya di universitas tidak mau
ngganti-ngganti, wah, kalau mau ikut-ikutan jadi nasionalis kiri bagaimana itu.
Bagaimana saya bisa lebih baik mengurus nasib wong cilik?

Waktu saya sudah duduk minum teh panas yang secara kilat disuguhkan Mr. Rigen &
Company, Beni Prakosa nyeletuk.
“Eh, Pak Ageng, Pak Ageng, mBandung itu di mana to, Pak Ageng?
“Oh, di sana jauuuuh sekali.”
“Sama jalan Solo?”
“Lebih juauuuuh sekali banget!”
“Sama Gembiro Loka?”
“Masih lebih juauuuh lagi, Le!”
“Waah, di pinggir langit ya, Pak Ageng?”
“Ya, hampir nyrempet langit. Apa bapak dan ibumu tahu di mana mBandung?”

Ms. Nansiyem Rigen tersenyum-senyum menandakan tidak tahu persis di mana itu
Bandung. Mr. Rigen kelihatan beringas mau tegas menjawab.

“Saya tahu. Saya tahu, Pak. mBandung itu di negoro Sundo nggih, Pak?”
“Negoro Sunda gundulmu amoh! Propinsi Jawa Barat begitu!”
“Ha, enggih! Rumahnya tiang-tiang Sunda to, Pak?”
“Lha ya betul. Itu daerah Pasundan, mBandung itu kotanya. Itu kota yang sangat
penting dalam sejarah kita Iho, Gen.”
“Penting pripun?”
“Elho, bagaimana sih kamu? Sudah tahu cerita kota Paris, revolusi Perancis, kaum
Jacobin, kok nggak tahu mBandung.”
“Ha enggih. Sing niki belum tahu. Bagaimana ceritanya, Pak?”

Saya lantas ingat tempat saya jual kecap di Bandung. Tempat itu di gedung tempat
dulu Konferensi Asia Afrika diadakan. Saya lantas ingat waktu konferensi dulu
masih mahasiswa ingusan tetapi yang sudah sok tahu politik tinggi. Memang
peristiwa yang menggetarkan! Pemimpin-pemimpin dunia ketiga berkumpul untuk
menyatakan diri mereka sebagai kekuatan yang harus diperhitungkan. Nadanya
memang nasionalis kiri. Tetapi, tanpa Mercedes. Waktu kemarin saya ngomong di
situ yang saya hadapi adalah ratusan mahasiswa dan dosen muda. Juga mereka ingin
menyatakan diri mereka sebagai kekuatan baru. Itu juga menggetarkan!
Menggetarkan karena saya cemas ke mana mereka mesti cari kerja sehabis tamat
kuliah. Kesempatan apa yang saya dan angkatan saya bisa berikan kepada mereka?
“Geen tolong siapkan jip. Saya harus segera ke kantor. Kerja.”

Jip tua kantorku distarter. Egrek, egrek, egrek, egrek. Wer, ewer, wer, ewer,
wer ….

Kedaulatan Rakyat, 25 Oktober 1988

Advertisements

Tentang Keluarga Bahagia

January 15, 2009 at 1:03 am | Posted in Tentang Keluarga Bahagia | 1 Comment
Tags:

Tentang Keluarga Bahagia

Dalam seminar di Banjarmasin saya harus berbicara tentang konsep keluarga
bahagia dalam kebudayaan kita. Saya begitu saja menyetujui permintaan panitia
tanpa berpikir lebih panjang apakah saya mengerti benar makna keluarga bahagia
itu. Apalagi konsep tentang itu dalam kebudayaan kita. Dan apakah keluarga saya
sendiri bahagia? Saya lantas teringat percakapan Mr. Rigen dengan Pak Joyoboyo
tempo hari tentang kebahagiaan mereka. Sembari menertawakan diri mereka sendiri,
mereka berkesimpulan bahwa masalah begitu adalah masalah orang-orang gede. Buat
mereka wong-wong cilik itu tidak pernah keluarga bahagia itu dipertanyakan. Wong
bahagia kok ditanyakan, kesimpulan mereka. Wong bisa makan cukup saja sudah
seneng kok masih kober tanya tentang kebahagiaan.

Sebelum berangkat ke Banjarmasin, saya cek sekali lagi dengan direktur kitchen
cabinet saya itu.

“Gen, apa kamu sama Nansiyem dan Beni dan singa laut itu bahagia to, Gen?”
“Pripun, Pak? Bahagia?”
“Iya, bahagia.”
“Bahagia?”
“Iya, bahagia, monyong!”
“He, he, he. Bahagia. Wong bahagia kok ditanyakan to, Pak?”
“Lha, saya ingin tahu saja. Kelihatannya kalian sekeluarga itu kok bolehnya
rukun bin seronok begitu hidupnya. Mestinya ya bahagia to uripmu itu.”
“Ya, jelas seneng to, Pak. Hidup disanding anak-bojo.”
“Jadi, kalo tidak disanding anak-bojo itu tidak senang ya, Gen. Iya, Gen, tidak
senang.lya, Gen?”
“Lho, iho, lho, Pak. Saya .itu tidak nyindir Bapak. Saya itu cuma cerita tentang
diri saya sendiri. Bukan Bapak. Kalo Bapak sama Bu Ageng clan putra-wayah ya
mestinya seneng seneng saja meski tidak kumpul. Lho wong Bapak sama Bu Ageng itu
serba cukup. Mestinya ya seneng. Lha kalo saya yang serba mepet ini tidak kumpul
anak-bojo jeneh-ngenes.”
“Ya, wis. Lho, resepmu untuk senang itu apa, Ben?”
“Resep? Wong urip kok diresepi. Kok kados penyakit saja. Ya, kalo buat saya
hidup senang itu ya kumpul anak-bojo itu, Pak. Ah, Bapak ki. Wong begitu kok
ditanyakan, lho.”
“Lho, penting ini, Gen.”
“Yak. Penting ya penting. Ning kalo perkara hidup itu ya dilakoni saja. Tidak
usah ditanyakan resepnya.”

Saya manggut-manggut saja. Menghadapi “filsuf” alam-ndeso yang sedahsyat Mr.
Rigen, mau apa kita selain berdecak kagum? Dan nyatanya, sore-sore kalo saya
lihat mereka duduk berjejer di lincak yang sudah hampir reyot itu menikmati
semilirnya angin sore dan menunggu matahari yang hampir terbenam, eh, kok ya
kelihatan hangat clan senang begitu.

Pada malam harinya saya diundang Prof. dsb-nya, dsb-nya. Lemahamba dsb-nya,
dsb-nya, dsb-nya. Beliau merayakan hari ulang tahunnya yang kelima puluh tujuh.
Datanglah, katanya. Ning sederhana saja, kok, kali ini, katanya lagi. Cuma
mengundang teman-teman dekat dan sedikit sanak keluarga. Eh, ternyata yang
dinamakan sederhana itu. Di halaman depan rumah beliau ada tarub. Kursi
berderet.

Dan waktu tamu-tamu sudah pada datang, ada kira-kira lima puluh orang
berdatangan. Sederhana. Kemudian waktu suguhan datang mbanyu-mili, mbanyu
mbludak malah. Sederhana. Kemudian, waktu kuwih taart sebesar meja dengan lilin
lima puluh tujuh buah didorong ke ruang tengah diiringi nyanyian happy birthday
to you, para tamu pada berkerumun mendekati meja untuk mendapat potongan kuwih
taart. Ibu Lemahamba memotong kuwih itu clan diberikannya kepada suaminya. Sang
suami menerima sambil mendapat ciuman mak sengok dari sang istri. Semuanya
lantas bertepuk tangan. Saya, dari jarak agak jauh, bisa melihat semua itu
dengan jelas. Air muka suami-istri Lemahamba berseri-seri. Rumah clan ruang
dalam yang begitu mewah seperti set seri Dynasty di teve.

Saya kemudian membayangkan tanah-tanah miliknya. Lemah yang amba-amba. Ah,
mestinya mereka keluarga bahagia, to. Wong begitu mbludak rezekinya. Tidak
mungkin tidak bahagia. Ah, perkara beliau mendapat tanahnya yang amba itu dengan
mencatut bersama pak lurah pada waktu survai penelitian, ah …. Di dalam jip
reyot dalam perjalanan pulang, saya lantas ingat juga Dr. Legowo Prasodjo atau
Prasodjo Legowo yang jenius dan super-sederhana itu. Orang sudah kondang kaloka
di seluruh dunia, rumahnya kecil sederhana. Kendaraannya Honda Bebek. Makannya
jangan asem sama ikan asin sama sambel terasi. Eh, kelihatannya ya kok ya
ayem-tenteram, tidak blingsatan, ngaya. Mestinya mereka seneng juga hidupnya.
Wong saya tidak pernah mendengar mereka mengeluh itu. Juga tidak pernah
menggerutu sama keadaan, apalagi ngrasani jelek teman-temannya. Ah, mestinya
mereka bahagia juga.

Di rumah saya dapati Mr. Rigen anak-beranak ketiduran di tikar di depan teve
sehabis menonton film akhir pekan. Mereka kelihatan nglepus tidur bersama
kaki-kaki mereka saling menimpa. Iler Beni Prakosa mendlewer kira-kira lima
belas senti. Kelihatan adem-ayem juga. Ah, mestinya mereka bahagia juga. Mungkin
betul juga kata Mr. Rigen. Hidup itu dilakoni saja ….

Kedaulatan Rakyat, 22 Agustus 1989

Demokrasi Selalu Menjadi Prinsip …

January 15, 2009 at 1:01 am | Posted in Demokrasi Selalu Menjadi Prinsip ... | Leave a comment
Tags:

Di Rumah Tangga Kami, Demokrasi Selalu Menjadi Prinsip, Namun Selalu Sulit
Dilaksanakan, Soalnya . . .

Sebagai seorang yang sudah terlanjur kena apa yang disebut “racun pendidikan
Barat”, tentu saja demokrasi dari keterbukaan adalah prinsip yang sudah menjadi
ganyangan dan minuman saya sehari-hari. Setiap kali saya membaca di koran ada
pedagang informal diuber-uber, tanah-tanah petani digusur, majalah atau koran
dibungkam atau ditutup, sedihlah hati saya. Kok ya tega-teganya mereka yang
lulus P4 dan sudah ndremimil hafal jurus-jurus demokrasi Pancasila itu melaku
kan hai-hal seperti itu. Apakah kekuasaan itu begitu nikmat dan menyilaukan
sehingga sanggup menutup jurus-jurus P4 yang sudah mereka hafalkan dan kuasai
itu?

Di rumah saya di Cipinang Indah, Jakarta, saya dorong tumbuhnya oposisi untuk
menjaga agar jurus-jurus P4 (saya tempo hari lulus nomer 1 sak DIY, lho) yang
sudah saya kuasai plus racun-racun dari John Stuart Mill, Milton, Voltaire,
Jefferson, dan entah siapa lagi, tidak tertutup kabut kekuasaan yang sering kali
memang rada absolut di tangan saya. Oposisi itu tentu saja dari si Gendut yang
terutama sangat gigih mempertahankan hak jatah uang saku dan makan luar sekali
sebulan.

Dan oposisi tunggal itu sering kali juga digabung dengan oposisi dari kubu-kubu
si mBak dan Bu Ageng yang dengan ketat mengontrol hak budget rumah tangga kami
serta extra kurikuler “activity” saya.

Sebagai seorang demokrat sejati, tentulah oposisi itu saya pupuk dengan gembira.
Bahkan kalau sampai agak lama mereka adem-ayem saja, saya dorong-dorong untuk
mengkritik, mengontrol, dan menghantam saya. Ayo, oposisi, oposisi. Ayo, kritik,
kritik. Ayo, hantam saja, hantam saja. Wong demokrasi, kok. Ayo, mumpung punya
bapak demokrat sejati bin konsekuen. Sampai pada suatu hari ….

“Eh, Kap, Saudara Bokap.”
Saya yang baru setengah memejamkan mata, istirahat dan leyeh-leyeh di dipan
mengeluk geger yang capek karena baru datang dari Yogya rada terkejut dipanggil
bokap sama si Gendut.
“Apa, nDut?”
“Apa! Ini sudah tanggal berapa?”
“Tanggal? Tanggal delapan. Emangnya kenapa?”
“Kok masih tanya kenapa, sih? Katanya orang harus tahu kewajiban.”
“Wah, kewajiban? Aku ada kewajiban apa sama kamu, nDut? Capek-capek dituntut
kewajiban. Sana ah, Bapak mau tiduran dulu.”
“Be, tanggal delapan nih, Be. Tanggal delapan.”
“Heissyyyh, tanggal delapan ya tanggal delapan. Tapi nanti!”
Si Gendut kok jadi rada mengkeret mendengar suara saya yang penuh wibawa kesel
itu. Saya pun lantas melanjutkan tiduran saya dan Gendut pun mundur teratur.
Pada pukul tujuh malam saya dibangunkan Gendut. Kali itu saya lihat Gendut sudah
rapi jali. Bahkan rada menor berbau wangi. Untuk kesekian kali saya ingatkan
bahwa anak wuragil saya itu sekarang sudah benar-benar dewasa. Sudah young lady
yang benar-benar young lady. Setiap kali diingatkan begitu hati ini jadi mak
pang, jadi rada angles juga. Tetapi meski begitu suara ini kok keluarnya suara
penguasa.
“Mau ke mana lu?”
“Nah, itu. Kalau tadi saya diberi kesempatan cerita, sekarang ‘kan Bokap tahu
aku mau ke mana!”
“Iyaa. Mau ke mana?”
“Jalan. Ada birthday party, Be, tanggal delapan nih, tanggal delapan.”
“Lho, kok itu lagi.”
“Lha, iya dong. Bokap kalau diingetin kewajiban mesti begitu, deh.”
“Wah, Non. Aku kalau diingat-ingatkan kewajiban biasanya malah, jadi kagak
inget. Apa sih?”
“Tanggal delapan itu, Ayahanda, adalah hari gajian saya.”
“Oh, tanggal gajian. Lantas?”
“Ya, bagi dong cepetan dokunya! Ini keburu disamper temen-temen, lho.”

Eh, bagi. Enak saja anak sekarang bilang bagi. Seperti uang yang capek capek
kita cari itu sudah masuk haknya unIuk ikut memiliki. Bagi, dong, katanya.

“Bilang dulu baik-baik. Baru nanti Bapak pertimbangkan.”
“Eh, kok kayak baru sekarang saya trima gaji dari Bokap. Baiklah minta baik-baik
nih. Be, bagi dong gaji saya bulan ini.”
“Elho! Masih bilang bagi? Memangnya kau ikut susah-payah cari duit Bapak, Neng?”
“Enggak. Tapi apa salahnya sih minta pembagian dari Bapaknya?” .
“Salah. Kau tahu kau tidak ikut capek cari duit Bapak. Dus kau tidak punya hak
untuk menuntut pembagian.”
“Elho. Lha, tiap bulan yang Bapak kasih itu apa kalau bukan pembagian?”
“Itu, Non, pemberian dari Bapakmu. Pem-be-ri-an. Jadi terserah dari aku, toh?”
“Jadi Bapak nggak mau kasih, ‘nih?”
“Mau dong. Tapi separo dulu. Yang separo kapan-kapan.”
Saya paro jatahnya setiap bulan. Saya sendiri tidak tahu mengapa saja jadi
kepingin mainin dia malam itu. Gendut menerima itu dengan muka asam.

“Bapak kok jadi fasis begini?”
“Hah? Fasis? Apa sih artinya fasis?”
“Nggak tahu. Pokoknya Bapak jadi sok kuasa. Mentangmentang Gendut nggak punya
kekuasaan apa-apa Bapak enak saja tentukan maunya.”

Gendut pun lantas lari menemui teman-temannya yang sudah tidak sabaran menunggu
di mobil. Bu Ageng, yang rupanya terus mengikuti percakapan kami dari kamar
tidur, kemudian datang.

“Bapak itu kebangetan, kok. Masak begitu saja tidak kasih.”
“Aah, sekali-sekali dia perlu juga diberi pelajaran.”
“Pelajaran? Pelajaran apa?”
“Ya, pelajaran untuk mengetahui bagaimana susah orangtua cari duit.”
“Pak, anak-anakmu itu sudah tahu perkara itu. Kok sekarang mau didramatisir. Apa
sih untungnya?”

Saya pun terdiam sebentar. Iya, ya. Apa sih untungnya? Tetapi eh, kok ibunya
jadi tiba-tiba bergabung beroposisi terhadap saya? Solidaritas kaum lemah?
Fasis, katanya. Edan. Mau mendidik dikatakan fasis. Dan esoknya separo dari uang
saku bulanan Gendut saya lunasi. Dan beberapa hari kemudian saya, pulang ke
Yogya. Di Yogya Beni Prakosa seperti biasa menyambut saya.

“Pak Ageng, Pak Ageng. Katanya . . . .”
“Apa katanya?”
“Katanya, katanya, kalau Beni sudah nol besar dibelikan mobil besaaar. Mana Pak
Ageng mobilnya. Kita sudah nol besar.”
“Aah, kapan-kapan. Pak Ageng masih capek.”
“Hore, Pak Ageng tukang bohong. Tukang bohong.”
“Heisyyh, diam kau, bedes. Sana sama Bapakmu sana.”

Mr. Rigen, tahu kalau saya baru capek, buru-buru menggelandang anaknya masuk.
Saya menggeletak di kamar tidur saya yang teduh itu. Menerawang langit-langit di
atas. Ingat Gendut clan Beni Prakosa. Dua rakyat saya yang tergantung kepada
kekuasaan saya. Kekuasaan yang maunya demokratis itu. Saya menguap. Ohaahemm.
Saya mengolet. Demokrasi tergantung juga pada mood penguasa, dong. Kalau
penguasa lagi sir, lagi seneng, ya demokrasi dong. Kalau lagi tidak sir.
Ohaaaahemm. Saya pun tertidur pules ….

Kedaulatan Rakyat, 5 September 1989

Service

January 15, 2009 at 1:00 am | Posted in Service | Leave a comment
Tags:

Service

Apakah service sudah dipahami di negeri kita? Tentu! Bukankah padanan untuk kata
itu dalam bahasa kita: pelayanan?

Mr. Rigen, Ms Nansiyem, Beni Prakosa paham betul makna service atau pelayanan
tersebut. Dari pukul 6 pagi hingga selesai teve pada pukul 23.00 konsentrasi
mereka nyaris pada service saja. Melayani majikan atau boss dengan penuh
dedikasi, bahkan kasih sayang. Bayangkan! Pada waktu fajar sudah merekah Beni
sudah berteriak di kursi goyang saya.

“Slamat pagii, Pak Ageng!”
“Slamat pagii, Le. Pak-tung-plak-plak-tung-plak.”
“Pak-tung-pak-pak-tung-pak! Teh apa topi, teh apa topi, Pak Ageng.”
“Kopi! Ko-pi! Sudah hampir empat tahun kok masih saja bilang topi. Kopi!”
“Yes, Pak Ageng. To-pi!”

Bedes kepala batu itu pun mak brabat ke belakang lapor kepada bapak-ibunya.
Pukul 6.15 entree Mr. Rigen dengan secangkir kopi panas, dua potong pisang
goreng.

“Sarapannya mau nasi gudeg, nasi goreng atau toos dengan tigan orak-arik? Terus
mau dahar sebelum siram atau sesudahnya?”

Dan kalau bilang sekarang, dengan sebat pula Kitchen kabinet saya bekerja dengan
gesit dan efisien. Siapa bilang orang kita tidak paham service? Servis,
pelayanan, mereka kurang bagus, aja takon dosa, out, out!

Tapi bener ‘nih service sudah dipahami semua lapisan masyarakat? Dalam pesawat
Garuda saya pernah menyaksikan seorang pramugari gemas, matanya melotot, mukanya
menggambarkan rasa jijik kepada seorang ibu muda yang kebingungan melihat
anaknya muntah-muntah. Penumpang (yang membayar) itu tidak ditolong malah
ditinggal lari. Ah, apalagi yang menjijikkan begitu.

Permintaan sederhana buat secangkir kopi lagi saya dilayanai dengan muka anyel
bin cemberut! Dan hari Miggu kemarin, di dalam cabin kelas eksekutif lho,
seorang penumpang (yang membayar) mengeluh karena kopi yang diminumnya kok
terasa dingin. Sang pramugari cuma tersenyum manis banget, tetapi tidak berbuat
apa-apa. Kayaknya beliau itu mau mengatakan: “Woo, Pak sudah berapa-berapa,
sudah untung, Bapak bisa naik Garuda hari ini. Kok masih nggrundel, lho. Mbok
jadi orang itu jangan rewel to, Paak, Pak.”

Saya sering tercenung melihat gejala seperti itu. Mr. Rigen tahu artinya service
atau pelayanan dan melaksanakannya dengan baik an ikhlas. Miss pramugari? Edaan!
Ya tahu dong arti service. Tetapi, ngelap bayi muntah, nggodok kopi secangkir
buat penumpang? Tunggu dulu dong. Memangnya aku ini batur atau babu penumpang
apa?

mBakyu saya dan pakde saya di rumah tidak berani mrintah-mrintah begitu. Kok ini
….

Rupanya melayani, ngladeni, dan nyrevis ada nuansa-nuansa maknanya. Bahkan
mungkin ada hubungannya dengan kelas! Mr. Rigen ikhlas, lega-lila melayani
karena tugas batur yang all-round! mBak pramugari yang ayu menik-menik melayani
pilih-pilih, muntah atau tidak. Wong di rumah tidak pernah melayani, tetapi
dilayani je!

Lha, kalo kemenakan dan sepupu saya yang kerja di Bea Cukai dan Kantor Pajak
itu?

Makna service-nya bagaimana? Wee lha ….

Kedaulatan Rakyat, 12 April 1988

Mudik Lebaran dan Rigenomics

January 15, 2009 at 12:56 am | Posted in Mudik Lebaran dan Rigenomics | Leave a comment
Tags:

Mudik Lebaran dan Rigenomics

MUSIM semi datang bagai seekor singa, kata penyair T.S. Ellot. Tetapi lebaran
datang bagai air bah, kataku. Pengeluaran dan pengeluaran itu, lho, yang datang
bagai air bah. Gaji para anggota kitchen cabinet alias kanca wingking mesti
dibayar dobel. Lebaran, kok! Pakaian lengkap dari atas ke bawah bagi mereka juga
kudu dibeli. Lha lebaran, je. Dan diatas semua itu para anggota kabinet tersebut
tentulah membutuhkan masa reses juga. Sama seperti anggota DPR yang sudah sekian
bulan mengantuk di ruang besar yang ber-air conditioning membutuhkan udara luar
yang segar sambil meninjau kebutuhan rakyat di tanah akarnya, begitulah para
kanca wingking.

Mereka butuh reses sesudah setahun penuh (dan di sini mungkin mereka agak
berbeda dari anggota DPR) bekerja keras mengabdi para bendoro (yang
kadang-kadang ada yang mau dipanggil Pak atau Bu). Mereka butuh mudik mudik
untuk reriungan dengan jaringan keluarga mereka, yang entah berepa kompi
besarnya, bila datang berkumpul di rumah leluhur mereka di desa. Jaringan yang
antara bulan Syawal yang satu dengan syawal yang lain ada dalam kondisi
cerai-berai tersebar kemana-mana. Tetapi, pas pada dua hari Riyaya itu, jaringan
itu akan berpaut kembali menjadi satu jagat yang utuh, hangat dan bersemangat
mangan ora mangan waton kumpul. Lha, wong lebaran, je! Maka, karena itu tradisi
reses itu kudu diberikan. Pengeluaran lagi!

“Mau mudik berapa lama?
“Seminggu saja, nDoro Putri.”
“Edan, kowe. Seminggu? Jadi aku kau suruh nyuci piring dan nDoro Kakung nangsu
air, kasih makan dan ngguyang si Bleki selama seminggu lamanya, hah? Ora! Tiga
hari saja!”

“Waduh, mbok kasihan sama simbok dan bapak saya, nDoro. Sudah setahun tidak
ketemu. Kangen, nDoro.”
“Ya, wis. Lima hari, tidak boleh lebih. Awas kalau kowe pulangnya molor. Tak
cengklong gajimu!”
“Matur sanget nuwun, nDoro! Saya akan pulang tepat!”
Wajahnya menunduk gembira. nDoro! Saya Putri pun lega. Keduanya tahu, di dunia
Jawa (mungkin juga di dunia mana saja), semuanya kudu ada bargaining,
tawar-menawar, nyang-mengenyang. Setidaknya dulu….

MESKI hidup sendiri di Yogya, jelek-jelek saya punya kitchen cabinet. Mereka,
seperti telah saya laporkan dalam kolom terdahulu, terdiri dari tiga anggota:
(Mr.) Rigen, (Mrs.) Nansiyem Rigen, dan (Junior) Beni Prakosa. Dan meskipun
hadiah lebaran tahun ini dari fakultas semakin mungkret (delapan belas ribu
dicengklong tiga ribu buat syawalan), karena mau solider dengan tekad yang
dahsyat dari bapak-ibu di Pusat untuk hidup sederhana, saya toh tetap tak bisa
lain daripada mempertahankan ritual lebaran.

Dan itu ‘kan perlu untuk memelihara rapor dengan rakyat saya. Pakaian lengkap
dari atas sampai bawah, gaji dua bulan dan menawarkan reses 5 hari ke desa. Buat
saya kepergian The Rigen’s setiap lebaran begitu tidak pernah mengacaukan
organisasi pemerintahan saya. Sebelum pergi, semalam suntuk biasanya mereka saya
perintahkan untuk mau secara sukarena (dengan ancaman sanksi secukupnya)
melembur sambel goreng ati (plus pete), opor ayam, mendeplok bubuk kedele,
merebus ketupat.

Pagi harinya, dengan mata merah, tubuh loyo tetapi hati gembira, mereka pun
meninggalkan rumah saya dengan meja makan sudah tertata rapi. Ah,
menteri-meteriku yang setia… Dan siang harinya, istri dan anak-anakku pun
dakan datang dari Betawi lengkap dengan oleh-oleh dunia metropolitan yang super
canggih. Dengan sigap pula mereka akan mengambil alih semua administrasi dan
bidang pekerjaan umum rumah saya. Ah, anggota keluargaku yang efisien….

“Mr. Rigen, Mrs. Nansiyem, dan Junior….” Begitulah setiap lebaran saya akan
menegur mereka dengan formal sekali.
“Ini baju-baju kalian. Semoga memuaskan kalian. Ini gaji dua bulan.”
“Matur nuwun sanget, Pak.”

Pada saat begitu paduan suara anak beranak itu sangat merdunya. Tak senada pun
blero!

“Lha, tahun ini kalian mau pulang berapa lama? Lima hari seperti biasa?
Diam sejenak. Mr. & MRs. Rigen saling berpandangan sedetik. Lantas ….
“Kalau boleh, tahun ini kami tidak pulang.”
“Lho? Priye, karepmu?”
“Terus terang ke desa cuma habis-habiskan uang, Pak.”
“Lha, tentu saja uang mesti dihabiskan. ‘Kan dibagi sama orangtua dan
lain-lainnya?”
“Desa cuma bikin hati sedih, Pak.”
“Ah, mosok! Wong ijo royo-royo. Gemah ripah.”
“Yak, Bapak kok terus ndagel, lho!”

Rupanya Mr. Rigen sudah punya perhitungan yang rapi bin njlimet. Tahun ini
mereka tidak mudik tetapi cukup kirim uang ke kedua orangtua mereka. Praktis,
tidak repot katanya.

Kalau pulang jatah subsidi Bandes itu akan molor. Belum naik bis 3 kali plus
colt. Belum muntah-muntah Madam & Junior di tengah jalan. Sedang uang sudah
dicengklong buat orangtua itu diharap akan dikompensir oleh persen dari jaringan
keluarga saya yang diperhitungkan akan reriungan di rumah saya dan di rumah ibu
saya. Kalau datang semua bisa sekitar 15 orang jumlahnya….

“Coba kalau saya pulang, Pak. Bapak akan capek nyopir jip. Para putri akan lecet
tangannya nyuci….”

Kemudian bibirnya menyungging senyumnya yang lihay.
“….dan saya akan kehilangan rejeki dari ibu-ibu dan bapak-bapak.”

“Dapurmu!”
“Saya jenggung kepalanya alon-alon. Well, President Ronal Reage, you may have
your Reaganomics…. Tetapi disini I punya Rigenomics!

Kedaulatan Rakyat, 26 Mei 1987

NEVER ON SUNDAY

January 15, 2009 at 12:53 am | Posted in NEVER ON SUNDAY | Leave a comment
Tags:

NEVER ON SUNDAY

BEBERAPA tahun terakhir ini kondisi kesehatan saya kurang begitu prima. Dokter
menasihati agar saya lebih santai. Umpama mobil begitu, saya tidak lagi digenjot
di atas 100 kilometer sejam.

“Jangan ngoyo, Pak, Nanti cepat tua, lho!”
“Yak, dokter kok klise begitu. Mbok yang lebih orisinil, Dok nasihatnya….”
“Baik! Kalau you begini terus… nggak tahu, deh!”
“Yaa, masih ucapan klise dokter. Tapi bolehlah, setidaknya lebih jelas. I get
your message, Doc!”

“Kalau puasa sekuatnya saja dulu. Pokoknya jangan ngoyo!”
Kali ini saya tidak lagi ngeledek “tidak orisinal”. Soalnya nasihatnya sangat
kreatif lagi relevan dengan rencana bawah sadar saya. (Menurut Freud, bawah
sadar memang punya rencana, kok!) Rencananya, ya itu! Tahun ini pada bula Puasa,
1987, atau bulan Romadhon 1407 Hijriah, saya tidak akan mampu puasa penuh karena
menurut roso tubuh saya akan nglemprek, loyo, kalau dipaksa puasa penuh. Lha,
kok dokter memerintahkan pas seperti yang dimaui bawah sadar saya.

Maka saya memutuskan untuk tidak akan puasa pada setiap hari Minggu. Tiba-tiba
saya ingat nama yang bagus untuk program prei puasa pada tiap hari Minggu itu.
Never On Sunday. Bagi mereka yang sebaya dengan penulis kolom ini mungkin masih
ingat bahwa Never On Sunday adalah judul sebuah film yang pada permulaan tahun
enam puluhan sempat terkenal. Film itu disutradari oleh Jules Dassin dan
dibintanti oleh Merina Mercouri, aktris Yunani yang konon sekarang menjadi
menteri kebudayaan di negerinya. Yang penting bagi saya bukan filmnya karena
saya sudah banyak lupa adegan-adegan ceritanya.

Yang penting peristiwa permutaran film itu dengan saya. Lho! bukan nyombong ‘nih
ye. Saya nonton itu di New York dengan Bung Karno, Pak Ali Sastroamidjojo, salah
seorang tokoh NU yang saya sudah lupa, dan D.N. Aidit. Pada waktu itu Bung Karno
datang dengan delegasi besar dan kami para mahasiswa dikerahkan untuk meladeni
bapak-bapak itu. Pekerjaan con amore alias gratisan (waktu itu kita belum
memasuki era honorarium…) tetapi yang sangat membanggakan hati.

Bayangkan pada malam hari kita piket di Hotel Waldorf Astoria. Dan bila Bung
Karno berkenan melihat film kita semua diajak. Wah, mongkok-nya hati ini, lho!
Rombongan Indonesia itu datang terlambat di gedung bioskop itu. Terpaksa semua
penonton bule-bule Amerika itu menunggu kita. Dan waktu Bung Karno tampi di
balkon memberi salam kepada semua penonton (hallo, hallo!) kayak gedung itu di
Gedung Kesenian Pasar Baru Jakarta dan penonton pada bertepuk, wah, banggaku!
Presidenku jan hebat tenan….

PADA Sunday pertama saya mulai programku itu terasa nikmat betul. Bangun pukul 8
pagi, secangkir kopi susu, roti bakar dengan dilepot sele setroberi cap hero,
koran KR Minggu, kaki metangkrang di meja. Uwah, laras banget.

Tiba-tiba: penggeng ayem, penggeng ayem.
“Panggange, dipunduti, Den?

Lhadalah! Mas Joyoboyo (bukan nama sebenarnya) begitu saja sudah nglesot di
lantai di bawah kursi malas saya. Dan rite de panggang aya dibeber pun begitu
saja dimulai. Karuan saja saya jadi kelabakan, malu ketahuan tidak puasa.

Repot, ‘nih. Apakah mungkin wong Klaten ini akan mengerti kalau saya terangkan
makna program Never On Sunday, dan kenapa dipilih kode Never On Sunday.

“Lho, mboten siyam to, De?” (Tidak puasa, Den)
Belum sempat saya menemukan kata-kata penjelasan yang tepat…
“Saya juga tidak pasa kok, Den. Wong saya mesti menjaja ngalor-ngidul, ngetan
bali ngulon, cari makan buat anak ini.

Mosok Gusti Allah tidak paring ampun, nggih, Den.”
Saya cuma bisa manggut-manggut tanpa teges, mulutku masih belepot sele
setroberi.

“Apalagi menurut Den Bi Curiga Naraka (mestinya juga bukan nama sebenarnya) sing
penting itu batine kalau pasa, Den. Kalau batine resik dan kuat, lha mbok minum
es kopyor ditambah bestik komplit dikunyah nyas-nyis-nyus waktu pasa siang
bolong begini ya tidak apa-apa, Den. Mak legender masuk perut tapi… tidak
terasa minum tidak terasa makan. Itu, Den, menurut Den Bei Curiga Naraka pasa
klas paling tinggi….”

“Sudah, sudah, sudah. Ini uang panggang ayam. Sampeyan lekas pergi sana meguru
sama Den Bei sampeyan!”

Saya masuk kamar mencoba membaca. Edan, tenan! Minum es kopyor tidak terasa
minum, makan bistik tidak terasa makan. Edan…. Dari kamar terdengar jauh mas
Joyoboyo menjaja: penggeng eyem, penggeng eyem….Suaranya cempreng.

Senja mulai turun. Langit merah campur lembayung. Sirene mengaung terdengar
berbareng dengan azan magrib menembus sungai dan pohon randu alas. Nglangut dan
adem benar kedengarannya.

Di kamar makan saya lihat dari jendela luar, Beni Prakosa (bukan nama
sebenarnya), anak Rigen (bukan nasa sebenarnya) pembantu rumah saya, menyalami
Rigen dan istrinya Nansiyem Rigen (bukan nama sebenarnya).

“Selamat buka, Pak. Selamat buka, Bu,”
“Iya, Le. Terima kasih, ya. Kita sama-sama makan kolak, ya Le.”
Di dalam, sehabis makan malam Rigen bertanya.
“Besok hari Senin, Bapak ‘kan puasa, ta?”
“Ya, ya, ya, yaaa…. Allohumaghfirly, Tuhan ampunilah aku….

Kedaulatan Rakyat, 19 Mei 1987

Badai Pun Sudah Berlalu

January 15, 2009 at 12:50 am | Posted in Badai Pun Sudah Berlalu | Leave a comment
Tags:

Badai Pun Sudah Berlalu

KAMPANYE pemilu datang dan pergi bagaikan badai di kota ini. Sekali akan datang
berembus dahsyat membawa ekor lesus berwarna hijau, kemudian ekor puting beliung
yang berwarna kuning, kemudian lagi prahara berwarna merah. Setiap ekor panjang
berwarna dahsyat itu mengeluarkan suara gemuruh, gemelagar bagai guruh yang
tidak mau berhenti.

Dahulu, zaman saya masih anak-anak, gejala seperti itu akan ditanggapi sebagai
berbagai macam tanda atau sasmita. Satu saat mungkin ekor lesus yang berwarna
hijau, kuning, atau merah itu akan ditanggapi sebagai segera datangnya bala
berupa pegeblug, musim penyakit menular, yang dahsyat. Pagi sakit, sore sudah
meninggal. Pagi cuma mules sore sudah mati kejang. Atau, karena badai itu
diikuti oleh suara gemuruh, ditafsirkan akan datangnya lampor, yakni konvoi
kendaraan magic dari kerajaan lelembut Nyai Roro Kidul yang mengawal dan
mengiringi ratu lelembut yang konon berwajah cantik tiada tara. Menurut para
tua-tua kampung pada waktu itu, Nyai berkenan datang ke salah satu kota magic,
Sala atau Yogya, untuk show of force, bertamasya atau mungkin menghadiri
konperensi meja bundar di keraton raja-raja Jawa. (Harap jangan ditanyakan
agenda konperensi itu….) Apa pun, badai beserta suara gemuruhnya yang
berkepanjangan dan ekor panjang berombak yang berwarna itu tidak akan dibiarkan
berla
lu tanpa interpretasi canggih dari penduduk.

Semua melihat gejala itu sebagai satu sistem tanda yang cepat atau lambat
diperkirakan akan membawa konsekuensi perubahan yang gawat buat negeri ini.
(Para ahli seniotik, makanya jangan kesusu kagum pada ahli teori Barat dengan
cas-cis-cus bilang kalau di Amerika kalau di Australia …. Sejak zaman dahulu
orang Jawa sudah tahu apa itu seniotik. Semua sudah dilihat sebagai satu sistem
tanda, lho!)

MAS JOYOBOYO, penjaja ayam panggang Klaten yang tiap hari Minggu setia menggedor
pintu rumah dan langsung duduk nglesot di lantai dan dengan keterampilan seorang
pro membeber paha-paha dan dada-dada yang cokelat kehitaman di depanku, pada
suatu Minggu pagi bercerita dengan penuh semangat dan emosi. Tentu saja tentang
kampanye. Wong sedang musimnya kampanye.

“Den, wah sudah to, kampanye itu jan elok tenan!”
“Elok-nya?”

“Lho, wong kampanye kok ngangge gontok-gontokan, ancam-ancaman segala. Lha, dor,
wonten sing mati.”
“Lho, itu ‘kan namanya risiko pesta demokrasi, Mas. Pesta ndang-ndut saja ada
risiko mati, je….”

Mas Joyoboyo terus saja dengan laporannya. Mungkin kata risiko (yang menurut
saya kata kunci yang penting) tidak digubrisnya, mungkin ya tidak didengarnya
karena “risiko” itu mungkin ya bukan kata apa-apa. Tangannya terus cak-cek
menyambar dada, tepong dan mentok dibungkus, dan dengan cekatan, dalam daun
pisang. Dan dengan tangannya mengacung-acungkan paha mulus kecokelatan, dia
meneruskan cerocosannya.

“Lha, pripun. Kampanye itu nggih, mestinya ya apik-apikan mawon. Wong Jowo itu
‘kan ya mestinya rukun saja. Kampanye kok jor-joran. Kampanye itu sing guyup
gitu, lho. Baris-baris bareng, nyanyi bareng, njoget bareng, saling muji
golongane dewe-dewe. Rak begitu? Wong yang pisuh-pisuhan kampanye itu, kalau
habis pemilu ya bareng-bareng saya lagi cuma dodolan ayam panggang atau kuliah
bagi sama-sama anak saya lho. Kok sekarang itu bolehnya gawat, lho. Pahanya Den,
besar, empuk ayu cokelat.”

“Sampeyan itu pripun, Mas. Ya, ini demokrasi tenan. Kalau kampanye boleh
ndongeng program dan kehebatannya sendiri-sendiri. Bebas. Wong demokrasi, kok!
Lho, sing pinter dodolan kampanye nanti nek coblosan dapat suara terbanyak.
Terus dia nanti yang akan ngatur pemerintahan. Pesta demokrasi, kok Mas….”

“Den, niki dadane dua, mentoke dua, pahane papat. Lha, roti santen tengkoweh
loro. Semua delapan ribu dua ratus empat puluh sen. Maringi duit pas, ya Den!”

Mau apa lagi kecuali “membayarnya” Uang pas recehan itu saya pinjam dari para
pembantu di belakang. Suara rakyat terus terdengar lagi. Penggeng eyem, penggeng
ayem, penggeng ayem ….

Rigen adalah pembantu rumah yang sudah ikut saya selama sepuluh tahun. Pada hari
ultah angkatan bersenjata dua setengah yang lalu ia punya anak. Dinamakan Beni
Prakosa. Cita-cita orangtuanya, minimal, minimal, anaknya kelak mesti jadi pati
ABRI. Dia melihat kelahiran pada hari keramat begitu juga dalam rangka sistem
tanda.

Pada musim kampanye itu setiap sore dia anak-beranak akan siap berdiri di
pinggir jalan nonton gelombang badai kampanye lewat gemuruh di depan hidungnya.
Dasar anak calon jenius, si Ben yang baru berumur dua setengah tahun itu, sudah
apal semua tanda gambar.

“Gambar nomor satu apa, Le?”
“Srengenge!” Tangannya ngacung jempol.
“Kalau gambar nomor duwa, Le?”
“Pohon jambuuu!” Tangannya ngacung jari dua.
“Lha, kalau gambar nomer tiga, Le?”
“Kebo, kebo!” Tangannya ngacung tiga jari.

Dasar calon jenius. Sampai sekarang, jauh sesudah badai kampanye itu berlalu dan
kita menanti-nanti hasil ramalan Mas Joyoboyo, si Ben masih terus berkampanye.
Mau makan: hidup, hidup srengenge. Mau makan lagi: hidup, hidup wit jambu. Mau
makan lagi: hidup, hidup keboo. Dasar calon jenius. Seharian kuping kita kudu
sabar dan senang mendengar excitement jenius kita itu.

Hari Minggu pertama sesudah pemilu, Mas Joyoboyo sudah nglesot di depan pintu
lagi. Sambil dengan terampilnya membeber dada dan paha dia laporkan dengan nada
gembira.

“To, pripun, Den! Saya bilang apa!”
“Lho, lha bilang apa?”
“Bar kampanye dan coblosan semua, ‘kan mulih ke kandange dewe-dewe! Sing bakul
seperti saya ya rukun jadi bakul lagi. Sing cah mahasiswa ya kembali sekolah
lagi. Sing babu, hihiik, ya jadi babu lagi. Apa? Wong tiyang Jowo saja lho,
Den!”

Saya tersinggung entah kena apa.
“Lho, wong Jowo, apa? Wong Jowo kenapa …!”
“Niku wau dadane dua, pahane dua, mentoke …”

Saya tidak mendengar lagi apa yang diomongkan. Cepat-cepat saya rogoh dompet.
Saya bayar jreng. Dan dia pun kabur sambil penggeng eyem, penggeng….

“Mister Rigen, kowe nyoblos apa, hah?”
“DPR wit jambu, tingkat satu srengenge, tingkat tiga kebo.”

“Lho?”
“Lha, nyoblos apa saja ‘kan saya tetap jadi batur sampeyan, to, Pak….”

Kedaulatan Rakyat, 12 Mei 1987

Bal-balan Eropah & Belik-belik Pracimantara

November 3, 2008 at 4:39 pm | Posted in Bal-balan Eropah & Belik-belik Pracimantara | Leave a comment
Tags:

Bal-balan Eropah & Belik-belik Pracimantara
Umar Kayam

Gara-gara Piala Eropah, semua ritme kehidupan dan ritme agenda kerja saya dan
Mister Rigen jadi kacau balau. Lha, bagaimana tidak? Nyaris setiap malam
byar-byaran, nggeng-nggengan, seperti nonton wayang, tanggung. Tanggung, wong
mulanya baru jam 1.30 pagi dan berakhir jam 3 pagi. Kalo nonton wayang kulit,
sudah sejak jam sembilan kita siap-siap untuk mendengarkan gamelan yang mulai
talu. Pada jam 1.30 pagi begitu biasanya gara-gara baru habis. Itu kalo jumlah
pesindennya tidak sampai enam atau tujuh. Dan tidak ditambah dengan Waljinah si
Walang Kekek yang akhir-akhir ini ikut ditaroh di sela barisan para pesinden
untuk menyanyi langgam Jawa. Juga pada jam segitu, rawon dan soto sudah selesai
dihidangkan. Nah, baru sesudah itu mata boleh mulai byar-pet, melek-merem,
menahan kantuk yang mulai datang menyerang.

Dengan jadwal Eropah lain. Jam sembilan sehabis berita tv kita tidur untuk
beberapa jam, mengira itu strategi yang terbaik menghadapi pertandingan
bal-balan bule jam 1.30 itu. Mengharapkan pada waktu pintu digedor Mister Rigen
saya bisa langsung mak jenggirat bangun dengan kebugaran seorang atlet. Weh,
tidak. Pertama, belum tentu selalu saya yang harus digedor pintunya oleh Mister
Rigen. Kadang-kadang justru saya yang mesti membangunkan dia lebih dulu. Sembari
masih sempoyongan saya kadang-kadang bangun lebih dulu dan berjalan menggedor
pintu Mister Rigen. Kedua, kalo Mister Rigen yang lebih dulu bangun dan
menggedor pintu saya, tubuh manula ini syusyahnya bukan main untuk diperintahkan
duduk terus berdiri lantas jalan. Kemudian waktu sudah berhasil bergerak (dengan
sempoyongan tentu) dan kemudian duduk di depan tv, mata itu beratnya masih
seperti dibanduli dua bola bekel yang, meskipun dari karet, terasa terbikin dari
besi.

Akibatnya pertunjukan sepak bola kejuaraan Eropah di tv itu lantas seperti
lukisan abstrak atau paling banter lukisan surealistik Amang Rahman. Kepala Ruud
Gullit dan Rijkaard yang sudah ditenun itu jadi nampak lebih lonjong seperti
wuwu atau bubu untuk menangkap ikan di kali. Lha, kepala-kepala para pemain yang
bule jadi nampak seperti durian, pating cringih, kuning keemasan. Bola itu
nyaris nampak. Begitu juga para penonton yang ribuan itu nampak seperti seleret
mendung kelabu ning bisa mengeluarkan suara sorak-sorak. Toh kami berdua, dengan
perjuangan kantuk seperti itu, setiap malam tetap ngoyo bersedia disiksa, demi
Piala Eropah. Edan tenan!

“Jan-jane, sesungguhnya telepisi keraya-raya, susah payah menyiarkan sepak bola
Eropah ini buat apa to, Pak Ageng?”
“Elho . . .”
Saya terus mengucek-ucek mata saya.
“Elho . . .”
Saya meneruskan mengucek-ucek mata saya yang tidak kunjung bersih dari
klilip-klilip blobok pagi.
“Ongkosnya memancarkan dan menyiarkan itu rak ya muahal sanget nggih, Pak?”
“Heh? Ongkos? Ongkos apa, Gen?”
“Wo, Bapak. Wungu, Pak, wungu! Bangun dulu Pak.”

Akhirnya saya bangun betul. Ruud Gullit dan Rijkaard yang malam itu
memorak-porandakan Jerman sudah tampil sebagai sakbae-nya manusia lagi.

“Itu, Iho, Pak. Televisi dan pemerintah kok sudah berani menyiarkan sepak bola
Eropah yang muahal. Apa pemerintah sekarang sudah kaya to, Pak?”
“Lho, wong ya selamanya kalo siaran-siaran luar negeri seperti tinju dan
bal-balan, pemerintah ya mau membayar, Iho, Gen. Kok kamu bolehnya terlambat
ngunandika? Kamu itu telngu, Gen!”
“Telngu.. ni-ku napa? Kalo tengu, nah itu saya tahu. Binatang yang sebesar
bintik merah yang suka nempel di anu . . . .”
“Hus, pagi-pagi buta sudah porno, telngu itu telat ngunandika, bedhes!”
“Ooh, Kalo mekaten inggih nyuwuun sori.”
“Kamu rak ya seneng-seneng saja to, bisa melihat bal-balan yang canggih mutunya
kayak bal-balan-nya bule-bule itu. Dan senang-senang saja to, bisa lihat
orang-orang item Amerika itu adu jotos yang dahsyat itu?”
“Lho, seneng nggih seneng, Pak. Ning ongkosnya itu lho, Pak. Ongkos sak hohah
itu kalo dipake membangun belik-belik, mata-air, mata-air, di Praci bisa dapat
berapa ribu belik, Pak? Wong dari dulu rakyat Praci itu kok terus saja nggak
punya-punya air to, Pak.”

Wah, pagi-pagi buta begini dirjen saya yang bernama Mister Rigen sudah mau mulai
sengak. Mau . menggelar lakon Pracimantara Nggugat. We lha, jangan-jangan ini
persiapan buat lakon berikutnya, Pracimantara Mbalelo. Gawat!

“Gen, Gen. Tak bilangi ya? Ongkos menyiarkan bal-balan itu memang mahal sekali.
Kamu betul. Ning kamu, kita semua, rakyat, butuh tonionan to, Gen? Lha, wong
Praci itu ya betul juga butuh air. Ning rak wong Praci tidak hanya butuh air di
belik to, Gen. Ya sandang, ya sekolah, ya Puskesmas, ya tayuban, ya tetek bengek
macem-macem ya, to?”
“Terus, terus, terus, Pak Ageng itu mau ngendika ke mana to, Pak?”
“Weh, terusnya kok sampai tiga. Satu saja, Gen, sudah cukup. Saya itu cuma mau
bilang manusia itu kebutuhannya dalam hidup itu banyak, Gen. Lha, barangkali
pemerintah itu saking kepinginnya mencukupi dan memenuhi kebutuhan rakyat yang
macem-macem itu semua dipikir Gen. Sampai bal-balan luar negeri ditayangkan
senajan muahal. Pembangunan di mana-mana jalan terus . . .”
“Kecuali pembangunan belik Pracimantara.”
Wah, sang dirjen van Praci memang lagi sewot tenan ini.
“Lho, nanti rak ya sampai di belik Pracimantara to, Gen.”
“Lho, penting mana, Pak. Belik buat rakyat apa bal-balan buat rakyat.”
“Ya, penting semua! Wong buktinya kamu ya seneng Iho nonton bal-balan.”

Tiba-tiba Mister Rigen bersorak.

“Gol, gol, gool. Jebol lagi Jerman. Jebol lagi. Gool . . .”

Saya tersenyum melihat wajah Mister Rigen yang berbinar-binar melihat jagonya,
kesebelasan Belanda bisa menjebolkan gawang Jerman lagi.

“Lha, tahunya kamu rak ya se.neng begitu melihat Belanda memasukkan gol.”
“Lho, ha enggih seneng. Ning belik Praci niku, Pak, belik Praci . . . .”
“Hayah! Kamu itu pokoke munafik kok Gen. Mu-na-fik. Mau bal-balan mahal ning
ethok-ethok-nya membela bangsamu yang butuh belik di Praci sana.”

Tiba-tiba kami berhenti berdebat tentang pilihan antara bal-balan dan
pembangunan. Masing-masing diam. Mungkin karena kantuk datang menyerang lagi,
karena jam sudah menunjukkan hampir jam tiga. Jam tujuh sudah harus bangun lagi,
jam delapan atau jam setengah sembilan sudah harus mulai di kantor. Alangkah
akan penuh dengan ho-ha-hem, ho-ha-hem sepanjang hari di kantor. Dan percakapan
akademik tinggi bin canggih itu pun akan dipenuhi dengan diskusi bal-balan
Belanda melawan Jerman.

Waktu jam tiga, skor 3-1 untuk Belanda. Saya dan Mister Rigen senang karena
Belanda, jago-jago kami, menang. Badan memang terasa loyo dan capek. Minggu
depan akan nggeng-nggengan lagi nonton babak-babak akhir dari bal-balan mahal
ini. Akan loyo, ngantuk, dan ho-ha-hem, ho-ha-hem lagi. Saya tidak berani
meramal, apakah dalam babak-babak itu nanti Mister Rigen masih akan menggugat
belik-belik Pracimantara lagi?

Kedaulatan Rakyat, 23 Juni 1992

Potret Keluarga Dalam Lima Tahun

November 3, 2008 at 4:36 pm | Posted in Potret Keluarga Dalam Lima Tahun | Leave a comment
Tags:

Potret Keluarga Dalam Lima Tahun
Umar Kayam

Tanpa terasa, kolom yang setiap Selasa (kecuali berhalangan) hadir di harian
Kedaulatan Rakyat ini, persis pada hari Selasa pagi ini telah berusia lima
tahun. Alangkah mulusnya waktu berjalan. Mulus dalam arti berjalan nyaris tanpa
suara seperti mobil BMW-nya Prof. Lemahamba Ph.D., M.Sc., M.A., M.Ed., Drs.,
B.A., S.M.A., (Pakem), S.M.P. (Wonosari), S.D. (Patuk), etc, etc. Itu tidak
berarti bahwa kemulusan suara sang Waktu juga mengandung kemulusan hidup kita.
Tanpa suara sang Waktu pun menciptakan gelombang-gelombang dalam kehidupan kita.
Naik, turun, naik, turun. Di rumah Yogya, Mister Rigen sudah lewat tiga puluh
tahun umurnya, kumisnya sudah agak lebih meyakinkan, tidak lagi seperti kumis
lele. Mukanya sudah kelihatan lebih mantap. Kalau berbicara, terutama terhadap
anak-istrinya semangkin digawat-gawatkan untuk lebih memantapkan wibawanya.
Padahal apa perlu semua itu? Biarpun dia cuma tamatan SD (Pracimantara lagi)
yang berhasil madeg dirjen, mengepalai suatu kitchen cabinet y
ang tangguh dari suatu pemerintahan yang semi-feodal, semi-demokratis seperti
rumah tangga saya itu? Barangkali dia masih membutuhkan gaya gawat itu, karena
anggota-anggota kitchen cabinet itu sekarang juga ikut kena gelombangnya Betara
Kala alias sang Waktu.

Ms. Nansiyem, yang meskipun belum sampai dua puluh delapan tahun, semangkin
kelihatan tampil sebagai seorang woman, bahkan kadang-kadang juga sebagai
seorang lady. Siapa nyana kalau gosokan dari sono-nya adalah gosokan Jatisrono.
Baju-bajunya semangkin kelihatan modish, up-to-date. Dengan penampilan yang
begitu elegant, apakah masih ada istri pejabat yang berani menganjurkan dia
untuk ikut program PKK bahkan Dharma Wanita. Ms. Nansiyem dalam lima tahun
terakhir ini sudah tumbuh sebagai suatu personality, suatu kepribadian, yang
mandiri. Senajan menu kitchen bosnya masih yang itu-itu saja, kalau terpaksa,
bersama suaminya yang tidak kurang resourcefull-nya, akan bisa menyulap
hidangan-hidangan yang fantastis kreatifnya. Buku menu made in Femina yang dulu
dikirim Bu Ageng untuk disimak, dihafal, dan diterapkan, dia kesampingkan bahkan
diserahkan kepada anaknya, sang jenius Beni Prakosa, untuk dijadikan eksperimen,
pelajaran membaca, dan ilmu menafsir gambar-gambar. Ini mungkin reaks
i negatif spontan dari wong cilik terhadap keinginan merekayasa dari sang
majikan. Maka .Ms. Nansiyem mengembangkan sendiri bakat-bakatnya.

Menghadapi perkembangan istri seperti itu, apakah suatu haf yang aneh kalau
Mister Rigen membutuhkan alat-alat tertentu untuk menghadapinya agar tidak
kehilangan wibawa.. Otot-otot matanya dilatih sedemikian rupa agar menciptakan
sinar pentheleng yang bagai sinar laser. Dan kosa kata kalimat-kalimatnya
dirumitkan. Bahasa Indonesianya semangkin kaya, berbunga-bunga dan propokatif.
Misalnya: Bune, adapun sebab daripada itu kita sakgotrah tahun ini tidak usah
pulang ke desa karena mangertia dipandang dari sudut politik, ekonomi, strategi,
dan taktik barisan angkatan para pembantu tidak menguntungkan. Pangsa kita di
pasaran dunia ….

Tentu saja Ms. Nansiyem akan manthuk-monthuk setuju. Bukannya dia mengerti
kata-kata muluk dan canggih dari suaminya. Dia mengerti makna kalimat panjang
itu. Pokoke tahun ini tidak usah pulang ke desa. Sebagai istri, perempuan
modern, seharusnya dia mendebat, mengembangkan argumentasi ruwet sebagai
layaknya seorang feminis terpelajar. Tapi, kalimat-kalimat suaminya yang dia
duga sudah begitu canggih, modern, dan mungkin alamiah itu rupanya sudah cukup
meyakinkan dia.

Lha, Beni Prakosa, sekarang tahu-tahu juga sudah mendekati tujuh tahun (atau
jangan-jangan malah delapan tahun?). Tubuhnya, berkat gizi yang memenuhi syarat
kesehatan, jadi bongsor, longgor, tingginya sudah hampir sama dengan tinggi
gurunya. Penampilannya semangkin meyakinkan bapaknya bahwa hari depan anaknya
adalah ABRI. Di situlah kejayaan, kebanggaan, dan keslametan seluruh keluarga
besar Pracimantara itu akan terjamin. Berkat sekolah SD Indonesia Hebat, yang
serba hebat disiplinnya itu, Beni Prakosa sudah kelihatan ciri-ciri ABRI-nya.
Pada setiap percakapan, termasuk dengan adiknya Tolo-Tolo yang masih pelo dan
embah-embahnya di Pracimantara dan Jatisrono, ia selalu berdiri tegak dan
menggunakan kata “siap” untuk setiap tiga kalimat. Suatu hari saya memergoki
Beni disuruh embah perempuannya untuk mengambilkan susur yang ketinggalan di
dapur.

“Le, Cah Bogus. Ambilkan susur Simbah di pawon, gih.”
“Siap, Mbah. Susur? Siap, Mbah. Emoh! Siap, Mbah!”
“Lho, siap-siap kok emoh. Ayo, to, ambilkan Simbah, Le.”
“Siap, Mbah. Emoh, emoh, emoh, emoh, Mbah. Susur Simbah jijiki. Hiii”

Embahnya tertawa.

“Dapurmu, Le. Kalo di desa disuruh apa-apa kok kamu mau. Di kota kok enggak mau,
Le.”
“Siap, Mbah. Di kota susur njijiki.”
“Lha, kalo di desa?”
“Siap. Mbah. Di desa susur ya susur. Tidak njijiki . . . .”

Orang-tuanya yang mengikuti percakapan susur jelas sekali dari sinar matanya
nampak bangga sekali. Demikian juga saya. Cuma entah kenapa, kok ada juga
sedikit kekhawatiran. Entah kekhawatiran apa.

Lha, Tolo-Tolo, juga tumbuh dalam lima tahun terakhir ini dari seekor singa laut
kecil yang eweh-eweh-eweh dan eplek-eplek-eplek menjadi anak berumur hampir
empat tahun. Ajaibnya masih pelo di sana-sini. Padahal seusia dia dulu kakaknya
sudah micara. Setiap pagi acara TPI adalah monopolinya. Acara matematika,
biologi, film Mahabarata, sinetron Kedasih, si Komo weleh-weleh, irama dangdut,
slow-rock Abiem Ngesti, dilalapnya habis. Dia akan duduk bersila rapi, tapi
mulutnya terbuka, sang iler mendlewer ke bawah.

“Heeeeit, jendela tu-tup!”

Tolo-Tolo segera menutup mulutnya sembari me-nyusrup kembali ilernya yang hampir
jatuh. Lima detik kemudian jendela itu akan buka kembali.

“Heeeit, jendela tu-tup!”

Tolo-Tolo segera menutup kembali jendelanya. Hanya untuk lima detik. Tapi, habis
itu, yang terjadi adalah mitos Sisyphus yang dihukum dewa untuk membawa batu ke
puncak gunung untuk digelindingkan ke bawah lagi, kemudian harus dibawa ke atas
lagi untuk diglindingkan ke bawah lagi. Cuma setiap pagi itu, di rumah saya,
siapa yang jadi Sisyphus? Tolo-Tolo atau saya?

Lha, akan saya sendiri bagaimana dalam lima tahun terakhir ini? Seperti Anda
yang arif dalam mengikuti mutu kolom ini dan tulisan di media lain tahu hanya
satu bisa saya laporkan. Mrotoli! Mro-to-li! Gelombang waktu telah banyak
mengikis dan meng-gragoti pinggir-pinggir pantai otak saya. Sedikit-sedikit,
tapi pasti, pantai-pantai otak, bathuk, gigi, rambut, tenggorokan, mrotoli
semua. Tidak apa. Asal Anda belum memensiunkan saya dari halaman kolom ini, saya
dan kitchen cabinet saya akan mengglinding dan mengglinding tanpa repelita tanpa
rencana apa. Mohon doa restu ….

Kedaulatan Rakyat, 12 Mei 1992

Sang Pengemis Dan Mr. Rigen

November 3, 2008 at 4:26 pm | Posted in Sang Pengemis Dan Mr. Rigen | Leave a comment
Tags:

Sang Pengemis Dan Mr. Rigen
Umar Kayam

Siang hari di musim panas begini memang hangudubilloh syaiton rasanya. Panas,
prampang, tapi keringat tidak ke luar. Lha, wong puasa. Air tubuh kita pada
menguap ke luar sampai membikin tubuh kita jadi kering-kerontang bagaikan
dendeng sapi. Bagi tubuh-tubuh yang gendut seperti saya, tubuh itu jadi nampak
seperti dendeng gajih, keras ning juga lintrek-lintrek. Jam sesiang itu juga
merupakan jam yang sangat kritis. Bagaimana tidak. Saat itu adalah tinggal dua
jam dari waktu berbuka puasa. Tinggal dua jam. Tapi, dua jam yang panjangnya
melebihi sepuluh jam. Alangkah lamanya jarak waktu.itu terasa. Untuk kesekian
kali terbukti bahwa yang namanya waktu itu karangan orang yang kurang kerjaan.
Yang disebut waktu itu diiris-iris sak enak wudel-nya sendiri dalam menit dan
detik. Itu masuk akal kalo kita berada dalam kondisi normal. Tapi kalo tidak,
seperti puasa begini, bukankah jadi tidak berarti iris-irisan waktu itu? Waktu
itu jadi meleleh, ndelewer miturut mood-nya orang, seperti sala
h satu lukisan Salvador Dali, maestro lukisan surealistik itu. Yah; surealistik
atau realistik jam-jam menuju buka puasa itu harus dijalani juga. Mosok kita
lantas mandeg hambegegeg terus tidak buka? Yak, jeneh enak sang waktu akan
me-ngenyek kita.

Begitulah, saya menggeletak di ruang tengah untuk sekadar bisa menangkap
semilirnya angin. Tiba-tiba ….

“Sanese mawon, Pak. Ke tempat lain saja ya, Pak.”
“Elho, sanese, lainnya? Wong dijujuk, didatangi langsung, kok sampeyan
memerintah saya untuk sanese itu bagaimana? Saya ini njujuk, menjujuk langsung
ke sini, Mas. Sanese!”
“Elho! Priye to iki. Sompeyan itu bagaimana, Pak. Wong ngemis kok marah.”
“Elho, sudah berapa-berapa ada wong ngemis bisa marah. Mau saya marah lebih
besar lagi apa, Mas?”

Saya kemudian mendengar Mr: Rigen berteriak memanggil Beni Prakosa.

“Beni cepat bawakan nasi sama tempe-tahu tadi pagi ke sini.”
“Wah, Mas. Jangan nasi. Apalagi kalo nasi itu nasi tadi pagi. Bikin lemes. Tur
perut saya sudah tidak kulina makan nasi adem dari pagi tadi. Uang saja, Mas.
Uang itu lebih ringkes. Anak sampeyan tidak repot cari daun pisang. Uang mawon.”

Dengan suara menggerundel Mr. Rigen memberikan uang.

“Monggo, Raden, uangnya!”
“Cuma lima puluh sen. Buat beli apa ini?”
“Sudah nggak mau? Sini kembalikan.”
“Purun, purun. Mau dan trims, nggih?”
“Weh, tahu trims to?”
“Ha, enggih. Apalagi kalo ditambah nasi yang dibawa anak sampeyan niki.”
“Ooh, wong ngemis nekat ini. Ya sudah ini nasinya. Katanya tadi sudah tidak
biasa makan nasi adem. Bikin lemes. Kok sekarang mau.” ,
“Ha enggih, wong sudah dibawakan anak sampeyan begitu. Kasihan.”
“Ya sudah! Pun sampeyan teng sanese mrika. Ke tempat lain sana!”
“Sanese? Lainnya? Mas, tak beri tahu ya? Sanese, yang lain itu, ya sudah semua.
Sudah ya?”

Srek, srek, srek. Langkah pengemis itu terdengar dengan rileks tapi mantap dari
ruang tengah tempat saya tiduran. Mr. Rigen dengan diiringi bedhes yang sekarang
sudah kelihatan seperti bangkokan itu, masuk ruang tengah.

“Wah, jaan, wong ngemis jaman sekarang.”

Saya tertawa:
“Ada apa to, Gen. Wong orang ngemis saja, Iho.”
“Elho; Bapak tidak priksa, sih. Saya dan Beni ini yang di-lumah-lumah-kan..”
“Iya, Iho, Pak Ageng. Bapak tadi sampe jatuh ke-lumah-lumah. Telentang di
lernah.”
“Hus! Diam kau! tak lumahke beneran enak kamu. Sana ke belakang minta unjukan
teh sama jenang mutiara sama mbokmu buat buka Pak Ageng”
Beni langsung lari ngiprit ke belakong.

“Kamu itu kok bolehnya sewot itu, kenapa, Gen.”
“Ha, enggih niku, to. Wong ngemis jaman sekarang akale makin banyak. Mau duit
sama nasi bungkus saja aksine kayak yak-yako.”
“He-he-he. Ning rak lucu, to, Gen.? Lagi pula kreatif!”
“We, lha. Bapak memihak kaum pengemis yang seperti itu?”
“Bukan memihak. Cuma kagum.”
“Elho, kagum? Sing dikagumi itu apanya to, Pak. Wong mundak ngemis dengan cara
begitu.”
“Geen, Gen. Wong kamu itu bocah ndeso Pracimantara. Ya tidak ngerti!”
“Ha, enggih. Terus bagaimana?”
“Ini ‘kan persoalan peradaban. Ini ‘kan cerita civilization, Gen.”
“Sing sipilis niku siapa?”
“Ooh, tak krawu pake parut mukamu baru tahu kamu!”
“Ampun, Pak. Muka sudah pas-pasan begini mau di-krawu. Alangkah semrawut dan
gurihnya muka saya nanti, Pak.”

Saya terpaksa tertawa mendengar tangkisan direktur kenthir ini.

“Begini, lho, Gen. Saya kagum kepada pengemis itu karena gaya dan rasa humornya
itu. Orang ngemis untuk lima puluh atau seratus rupiah plus nasi bungkus dengan
gaya seperti itu rak elok to, Gen. Kamu rak ketawa to menghadapi dia?”
“Mau ketawa ning lebih anyel itu, Pak.”
“He-he-he. Itu tandanya dia berhasil dengan gaya dagelannya.”

Kami berdua hingga waktu buka masih terus membicarakan pengemis jenius itu. Mr.
Rigen tetap bersikeras tidak mau mengakui kejeniusan pengemis. Sambil menggerutu
dia ke belakang sembari membawa cangkir dan piring yang sudah kosong.

“Pak Ageng. Wong ngemis ugal-ugalan begitu kok jenius.”

Heh, wong Mr. Rigen. Anak Pracimantara plus jebolan SD desa saja. Memper, tidak
mengerti kalau ini juga pertanda satu peradaban. Dikira gampang apa
rrrengembangkan kemblubutan yang dibungkus dengan teknik micara-nya yang
kontroversial itu! Dibutuhkan satu kebudayaan canggih yang mendukung Iho, itu!
Intinya meneror, menghardik, ning dibungkus dengan dagelan. Edan! Tiba-tiba saya
ingat kaset-kaset pujaan saya, almarhum Basiyo! Lha, pengemis itu ‘kan kopi dari
Basiyo itu! Ingat Basiyo Tukang Becak? Lha ‘kan plek jebles gaya sang pengemis
tadi to! Kalo begitu dia seorang plagiator perampok hak cipta Basiyo? Ah, tidak
juga. Basiyo, pengemis itu, dan beratus, beribu; manungso di Ngayogyakarta ini
adalah penyangga satu kultur, satu peradaban yang dahsyat kehalusannya. Dahsyat
ning halus. Mau menodong ning pake tata krama. Apa tidak elok?

Tiba-tiba dari luar saya dengar Mr. Rigen membentak-bentak.

“Pun, pun. Sudah, sudah. Liyane mawon, lainnya saja. Awas yen sampeyan mau
membujuk dan ngglembuk. Tak gebuk tenan sampeyan. Ayo . . .”
“Nggih, nggih.”
“Wong ngemis. Surup-surup, hari hampir malam masih mau ngemis . . .”

Saya yang melongok dari balik gordijn menggelengkan kepala. Mr. Rigen van
Pracimantara bisa galak betul ternyata ….

Kedaulatan Rakyat, 26 Maret 1991

Next Page »

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.